Selasa, 27 Mei 2014

rainbow

Dekat kamu memang indah, aku merasa memiliki semua warna
Tak terlihat lagi mendung di langit
Tapi, semenjak kamu pergi
Dan ku lihat kamu berjalan jauh..
aku merasa bagaikan awan mendung tepat di atas kepalaku
Warna ku luntur akan hujan
Begitu banyak yang ingin aku sampaikan
Tapi, saat di dekat kamu, semua hilang

Selasa, 04 Februari 2014

Ayam suwir sambal jeruk

Bahan :
250 gr Ayam, potong kecil
perasan air jeruk
penyedap rasa
minyak secukupnya untuk menggoreng
3 butir cabe merah, iris
1/2 buah tomat, cincang kasar
1 sdm gula merah
garam secukupnya
3 siung bawang merah, iri halus
1/2 buah jeruk, potong

ayam














perasan air jeruk














penyedap rasa, kita gunakan Royco rasa ayam














cabe merah














tomat














gula merah














bawang merah














buah jeruk














cara :

ayam yang sudah dipotong kecil-kecil, campurkan dengan air jeruk dan penyedap rasa














panaskan minyak














goreng ayam sampai menguning














angkat dan sisihkan


kemudian untuk sambal siapkan
cabe yang sudah dipotong kasar














masukkan kedalam cobek














masukkan gula merah














penyedap rasa














garam secukupnya














haluskan














sudah halus














kemudian tomat yang suddah dipotong tadi














di tumis




























sampai layu














masukkan bawang yang sudah diiris tipis














masukkan














campurkan dengan sambal yang sudah dihaluskan tadi














tambahkan perasan jeruk














masukkan ayam yang sudah digoreng tadi














masukkan potongan jeruk, aduk














ayam suwir sambal jeruk sudah siap untuk dihidangkan












 














gampangkan, selamat mencoba
tunggu resepku selanjutnya yaa...

Selasa, 17 Desember 2013

laporan praktikum klimatologi acara 7



BAB I
PENDAHULUAN

1.1             Latar Belakang

Hujan adalah sebuah presipitasi berwujud cairan, berbeda dengan presipitasi non-cair seperti salju, batu es dan slit. Hujan memerlukan keberadaan lapisan atmosfer tebal agar dapat menemui suhu di atas titik leleh es di dekat dan di atas permukaan Bumi. Di Bumi, hujan adalah proses kondensasi uap air di atmosfer menjadi butir air yang cukup berat untuk jatuh dan biasanya tiba di daratan. Dua proses yang mungkin terjadi bersamaan dapat mendorong udara semakin jenuh menjelang hujan, yaitu pendinginan udara atau penambahan uap air ke udara. Virga adalah presipitasi yang jatuh ke Bumi namun menguap sebelum mencapai daratan; inilah satu cara penjenuhan udara. Presipitasi terbentuk melalui tabrakan antara butir air atau kristal es dengan awan. Butir hujan memilik ukuran yang beragam mulai dari pepat, mirip panekuk (butir besar), hingga bola kecil (butir kecil).
Jumlah air hujan diukur menggunakan pengukur hujan atau ombrometer. Ia dinyatakan sebagai kedalaman air yang terkumpul pada permukaan datar, dan diukur kurang lebih 0.25mm. Satuan curah hujan menurut SI adalah milimeter, yang merupakan penyingkatan dari liter per meter persegi.
Alat Pengukur Curah Hujan merupakan alat yang digunakan untuk mencatat intensitas curah hujan dalam kurun waktu tertentu. Hasil pencatatan alat pengukur curah hujan dapat digunakan sebagai pembanding dengan hasil pencatatan pergerakan tanah pada extensometer yang dapat dinyatakan bahwa semakin besar intensitas curah hujan, maka tanah cenderung mudah bergerak, Rain Gauge atau Alat Pengukur Curah Hujan terdiri dalam beberapa type yaitu Manual dan juga otomatis

1.2             Tujuan

Memberikan pengertian bagaimana cara-cara pengukuran yang biasa dilakukan di lapangan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Hujan merupakan satu bentuk presipitasi yang berwujud cairan. Presipitasi sendiri dapat berwujud padat (misalnya salju dan hujan es) atau aerosol (seperti embun dan kabut). Hujan terbentuk apabila titik air yang terpisah jatuh ke bumi dari awan. Tidak semua air hujan sampai ke permukaan bumi karena sebagian menguap ketika jatuh melalui udara kering. Hujan jenis ini disebut sebagai virga  ( Handoko, 2000).
Curah hujan yaitu jumlah air hujan yang turun pada suatu daerah dalam waktu tertentu. Alat untuk mengukur banyaknya curah hujan disebut Rain gauge. Curah hujan diukur dalam harian, bulanan, dan tahunan. Curah hujan yang jatuh di wilayah Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain adalah bentuk medan/topografi, arah lereng medan, arah angin yang sejajar dengan garis pantai dan jarak perjalanan angina diatas medan datar. Hujan merupakan peristiwa sampainya air dalam bentuk cair maupun padat yang dicurahkan dari atmosfer ke permukaan bumi (Handoko, 2003).
Jumlah curah hujan yang jatuh di permukaan tanah dinyatakan dalam satuan millimeter. Jumlah curah hujan 1 mm menunjukkan tebal air hujan yang jatuh di permukaan tanah 1 mm, jika ir tersebut meresap ke dalam tanah atau menguap ke atmosfer (Sudira Putu, 1999).
Alat-alat ini ditempatkan di suatu tempat tertentu yang memenuhi setiap persyaratan yang wajib dipenuhi dari alat-alat tersebut yang selanjutnya dapat kita istilahkan sebagai stasiun agroklimat. Selanjutnya alat-alat ini akan bekerja mencatat setiap data yang diperlukan seperti sebuah sistem yang terintegrasi dengan baik dalam suatu periode tertentu (Lakitan Benyamin,2002).
Penakar hujan OBS adalah manual. Jumlah air hujan yang tertampung diukur dengan gelas ukur yang telah dikonversi dalam satuan tinggi atau gelas ukur yang kemudian dibagi sepuluh karena luas penampangnya adalah 100 cm sehingga dihasilkan satuan mm. Pengamatan dilakukan sekali dalam 24 jam yaitu pada pagi hari. Hujan yang diukur pada pagi hari adalah hujan kemarin bukan hari ini ( Sofendi,2000).
Selain itu ada jenis penakar curah hujan atau alat pengukur curah hujan yaitu Penakar hujan Hellman alat ini merupakan penakar hujan otomatis dengan tipe siphon. Bila air hujan terukur setinggi 10 mm, siphon bekerja mengeluarkan air dari tabung penampungan dengan cepat, kemudian siap mengukur lagi dan kemudian seterusnya. Di dalam penampung terdapat pelampung yang dihubungkan dengan jarum pena penunjuk yang secara mekanis membuat garis pada kertas pias posisi dari tinggi air hujan yang tertampung. Bentuk pias ada dua macam, harian dan mingguan. Pada umumnya lebih baik menggunakan yang harian agar garis yang dibuat pena tidak terlalu rapat ketika terjadi hujan lebat. Banyak data dapat dianalisadari pias, tinggi hujan harian, waktu datangnya hujan, derasnya hujan atau lebatnya hujan per satuan waktu ( Haryono, 2001).
Kedua alat penakar hujan otomatis diletakkan pada tempat terbuka. Jarak antara penakar hujan 150 meter dari tempat penelitian. Kedua tipping bucket berada pada ketinggian 15 meter dari permukaan tanah. Tipping bucket dihubungkan dengan sebuah data logger (Delta-T Devices Ltd.,Cambridge,UK) dengan interval 5 menit untuk mendapatkan data secara terus menerus. Sebuah corong dan jerigen berukuran 65 Liter ditempatkan pada daerah yang terbuka, dengan ketinggian 1 meter diatas permukaan tanah, dan bersudut tidak lebih dari 45 derajat dari tajuk pada plot penelitian. Untuk setiap kejadian hujan, pencatatan dilakukan setiap hari dari pukul 08.00 pagi hingga selesai. Apabila pada pukul tersebut masih terjadi hujan, maka pencatatan dilakukan setelah hujan benar-benar berhenti (Anonim, 2010).
             Pada alat penakar manual,  untuk mendapatkan data curah hujan dalam satuan milimeter, dilakukan perhitungan dengan menggunakan persamaan curah hujan kotor (Pg). Intersepsi diperkirakan dari hasil pengukuran hujan di tempat yang terbuka ( Gross Presipitation / Pg ), Air lolos ( Troughfall / Tf ), dan Aliran Batang ( Steamflow / Sf ). Selisih antara curah hujan di tempat terbuka, air lolos, dan aliran batang merupakan besaran intersepsi hujan ( Ic ). Pemilihan vegetasi yang digunakan untuk mengukur aliran batang pada plot penelitian berdasarkan kelas diameter batang pohon. Pemilihan tersebut berdasarkan diameter pohon diatas 10 cm (Anonim, 2008).










BAB III
METODOLOGI

3.1 Waktu Dan Tempat

            Praktikum ini dilakukan di Laboratorium Agroklimatologi. Pada tanggal 10 Desember 2013 pukul 16.00 WIB.

3.2 Bahan Dan Alat

Ø  Ombrometer
Ø  Ombrograf
Ø  Ember
Ø  Gayung
Ø  Penakar mL
Ø  Air

3.3 Cara Kerja

a)      Ember disiapkan, isi dengan air dan gayung. Kemudian dibawa ke taman alat penakar hujan.
b)      25 cc air dimasukkan ke dalam ombrometer. Kemudian kran penakar di buka dan di tampung. Air yang keluar di ukur dengan pengukur bawaan ombrometer.
c)      50 cc air di tuangkan kembali. Hal yang sama dengan langkah b dilakukan kembali.
d)     Dilakukan kembali langkah c untuk air 100 mL.
e)      Alat ombrograf di siapkan dan pias pada drum alat pencatat di pasang.
f)       Langkah a sampai d dalam pemberian air dilakukan. Yang terjadi pada pena pencatat di amati.
g)      Jika air yang masuk telah dicapai 10 mm, maka otomatis air akan tumpah dan jarum pencatat akan turun tiba-tiba. Air yang terbuang di tampung. Yang terukur di catat.
h)      Tinggi air yang terekam pada pias juga di lihat dan di catat.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

            Menghitung besar curah hujan
            h =
a)      h =  =  
b)      h =
c)      h =

4.2 Pembahasan

Kami dari kelompok IV melakukan sampel pengamatan curah hujan pada pukul 17.00 wib, dengan cara mengisi air ke dalam ombrometer sebanyak 25 cc dan diperoleh hasilnya sebagai berikut jumlah curah hujan yaitu 2,5 mm. Dan pada percobaan kedua di tuangkan kembali sebanyak 50 cc dan di peroleh hasilnya yaitu 5 mm. selanjutnya pada percobaan ketiga dengan air sebanyak 100 mL dan hasilnya 10 mm.
Semakin banyak air yang di tuangkan maka semakin besar volume curah hujan yang di dapat. Hujan dapat ditimbulkan karena adanya penguapan dari air laur sehingga menimbulkan awan dan terjadi pendinginan, dengan adanya pendinginan tersebut dapat menimbulkan hujan.
Dalam melakukan pengamatan diperlukan ketelitiaan dalam melihat volume air hujan yang terdapat dalam gelas ukur dan dat yang diperoleh harus benar- benar akurat sehingga tidak terjadi kesalahan dalam prosedur suatu prcobaan.
Data-data yang lengkap dan akurat tersebut hanya bisa didapatkan dengan cara melakukan pengamatan langsung. Tentu saja dibantu dengan beberapa alat meteorologi yang mempunyai fungsi dan tugas tertentu. Dalam pelaksanaan pengambilan data dengan menggunakan alat khusus tentunya dibutuhkan suatu keahlian menggunakan alat agar data yang diambil lebih akurat dan valid.
            Alat-alat ini ditempatkan di suatu tempat tertentu yang memenuhi setiap persyaratan yang wajib dipenuhi dari alat-alat tersebut yang selanjutnya dapat kita istilahkan sebagai stasiun agroklimat. Selanjutnya alat-alat ini akan bekerja mencatat setiap data yang diperlukan seperti sebuah sistem yang terintegrasi dengan baik dalam suatu periode tertentu.



























BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
·         Alat yang digunakan untuk mengukur curah hujan adalah ombrometer.
·         Semakin banyak air yang di tuangkan maka semakin besar volume curah hujan yang di dapat.
·         Jumlah curah hujan yang jatuh di permukaan tanah dinyatakan dalam satuan millimeter.
·         Curah hujan tertinggi yang didapat dalam pengamatan yaitu sebesar 10 mm.

5.2 Saran

Saran dari praktikum yang telah dilaksanakan hendaknya data yang di ambil dalam pengukuran haruslah secara sempurna. Selain itu sebelum melakukan praktikum para praktikan sebaiknya sudah menguasai bahan-bahan materi yang akan dipraktikumkan sehingga memudahkan untuk pemahamannya. Bimbingan dari asisten juga sangat diperlukan.











DAFTAR PUSTAKA


Handoko. 2000.Klimatologi Dasar. Jakarta : Balai Pustaka
Haryono. 2001.Kamus Geografi. Jakarta : Ghalia Indonesia
Lakitan Benyamin.2002. Penginderaan Jauh Geografi. Bandung : Pakar Raya
Nur muin, S, 2008. Penuntun Praktikum Agroklimatologi, Universitas Bengkulu.
Sarwono.1993. Cuaca dan Iklim. Jakarta : Gramedia
Sudira Putu.1999. Pengantar Oseangrfi. Jakarta : Tira Pustaka
Sofendi .2000. Ilmu Geografi. Jakarta : Akademika Pressindo




















LAPORAN PRAKTIKUM KLIMATOLOGI

Hujan 1: Pengukuran

 






Nama                                      : Widya Widayanti
NPM                                       : E1B012083
Hari/waktu                             : Selasa/16:00 WIB
Asisten                           : 1. Agustina Maryani
                                        2. Pebrin Oditiyaningsih



PROGRAM STUDI BUDIDAYA HUTAN
JURUSAN KEHUTANAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2013

Sabtu, 07 Desember 2013

laporan praktikum klimatologi awan



BAB I
PENDAHULUAN

1.1             Pendahuluan

Awan adalah kumpulan titik-titik air dan atau es yang melayang-layang di atmosfer sebagai hasil proses kondensasi yang terdapat pada ketinggian tertentu yang disebabkan karena naiknya udara secara vertikal karena proses pendingingan udara secara adiabatik di atmosfer. Awan bersifat mengabsorsi dan merefleksi radiasi surya dan radiasi dari bumikarena dapat memanaskan atau mendinginkan suhu udara. Bentuk awan dengan kharakteristiknya juga mencerminkan potensi hujan disuatu daerah di permukaan bumi.
Awan ialah gumpalan uap air yang terapung di atmosfera. Ia kelihatan seperti asap berwarna putih atau kelabu di langit. Awan adalah kumpulan titik air atau kristal es diudara yang terjadi karena kondensasi uap air di udara yang melebih titik jenuh. Terbentuknya awan dikarenakan udara yang banyak mengandung uap air mengalami proses pendinginan sehingga mencapai titik embun.
Proses pendinginan terjadi karena udara terdorong ke atas sampai atmosfir, dimana suhunya lebih rendah dibandingkan permukaan. Seiring dengan kenaikan udara panas di ketinggian, tekanan udarapun berkurang. Kondisi ini menyebabkan udara yang mengandung uap air menyebar dan mengalami pendinginan. Dan pada saat mencapai titik embun, udara menyatu dengan uap air. Seluruh uap air yang terkondensasi dalam udara tersebut membeku dan membentuk embun sehingga terlihat sebagai butiran-butiran awan.
Apabila awan telah terbentuk, titik-titik air dalam awan akan menjadi semakin besar dan awan itu akan menjadi semakin berat, dan perlahan-lahan daya tarikan bumi menariknya ke bawah. Hinggalah sampai satu peringkat titik-titik itu akan terus jatuh ke bawah dan turunlah hujan.

1.2             Tujuan

  • Untuk mengetahui bentuk-bentuk awan.
  • Untuk memberikan pengertian tentang kemungkinan terjadinya hujan dengan melihat kondisi cuaca beberapa waktu sebelumnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

            Awan adalah kumpulan titik-titik air atau es yang melayang-layang di astmosfer sebagai hasil proses kondensasi yang terdapat pada ketinggian tertentu yang di sebabkan karena naiknya udara secara vertikal karena proses pendinginan udara secara adiabatik di atmosfer.dalam proses pembentukan awan tidak terlepas dari proses kondensaso yaitu perubahan uap air menjadi butir-butir air atau es,dan kondensasi ini terjadi karena pendingina udara.proses pembentukan beberapa jenis awan dapat dibedakan dalam hal:1)awan yang terbentuk karena gerakan udara secara vertikal,2) awan terbentuk karena peluncuran udara melalui penghalang seperti pegunungan,lapisan udara panas atau dingin.

Klasifikasi awan
            Menurut konvensasi internasional tentang awan dibedakan atas 4 golongan dan 10 tipe:
             I.      Awan tinggi (> 6.000 m)
1.      Cirrocumus  (CC) : seperti kumpulan bulu domba>
2.      Cirrostratus (CS) : seperti puti halus menutupi seluruh angkasa,sering menimbulkan lingakaran pada matahari dan bulan.
3.      Cirrus (Cr) : halus sperti bulu berserat.tersusun seperti pita.
          II.      Awan sedang (2.000-6.000)
1.      Altocumulus (Ac): sekumpulan awan berbentuk bulat,berlapis-lapis,bergelombang,berwaran putih,pucat.
2.      Altostratus (As) : seperti selendang  yang tebal ,berserat,keabuhan
       III.      Awan rendah (<2.000 m)
1.      Stratocumulus (Sc) : seperti gelombang,lamgit kelihatan antra gelombang gelombang ini.
2.      Nimbostratus (Ns) : suatu lapisan awan yang tebal dengan bentuk tidak teratur disebut juga awan gangguan dan sering menimbulkan hujan lebat.
3.      Stratus (St): awan yang melebar seperti kabut ,sering kali terbentuk dari kabut yang naik dan menimbulkan hujan rnigan.
       IV.      Awan dengan susunan vertical
1.      Cumulus (Cn) : berbentuk seperti kubah dengan kelompok terpencar-pencar,bagian yang berwarna putih mengkilat,sedangkan bagian yang membelakangi kelabu.
2.      Cumulonimbus (Cb) : Awan volumenya sangat besar berbentuk seperti menara,kadang-kadang puncaknya melebar.Awan ini sering menghasilakn hujan lebat disertai guntur dan kilat,warnanya putih kearah sinar datang dan kelabu dibagian yang membelakangi sinar matahari.

Distribusi awan
             Perlu diketahui bahwa Penyebaran awan biasanya identik dengan penyebaran hujan yaitu kawasan yang tinggi terjadi di ekuator karena merupakan wilayah konvergensi udara dan kuatnya radiasi surya dan terendah di wilayh subtropika sekitar 20o -30o lintang bumi karena merupakan wilayah disvergensi.keawan maksimum biasanya siang hingga sore hari minimum malam hari ketika udara stabil.keawanan ini terjadi pada pagi hari ketika kabut naik yang banyak terjadi di daerah yang lembab dan danau.keawanan  terbesar terdapat diwilayah sekitar lintang  60o lintang bumi (lintang pertengahan) karena wilayah ini merupakn pertemuan massa udara yang hangat dan lembab dari lintang rendah dengan massa udara dingin dari wilayah kutub.
            Keawanan biasanya dinyatakan dalam luas penyebaran awan yang menutupi bidang langit yang dinyatakan dalam satuan luas keawanan 8/8,10/10,atau 100% kawanan 0 % berarti tanpa awan,keawanan 100% berarti seluruh bidang langit tertutup aswan.ukuran kuantitatif ini berdasarkan pengamatan kualitatif,cara ini diakui kurang akurat karena ada perbedaan persepsi diantara pengamat.











BAB III
METODOLOGI

3.1 Waktu Dan Tempat

            Praktikum ini dilakukan di Laboratorium Agroklimatologi. Pada tanggal 3 Desember 2013 pukul 16.00 WIB.

3.2          Bahan Dan Alat

Ø  Anemometer
Ø  Windvan
Ø  Termometer dan hygrometer
Ø  Barometer

3.3 Cara Kerja

a)      Amati keadaan awan.
b)      Amati jarak pandang, suhu udara, kelembaban udara, tekanan udara dan arah serta kecepatan angin.
c)      Pengamatan dilakukan oleh praktikan secara berkelompok.
d)     Catat apabila terjadi hujan. Perkirakan berapa luas dan lamanya.










BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Jam
(WIB)
AWAN
Simbol
KodiFikasi
Deskripsi Awan
Nama Awan
17:13

8/8


Tertutup
Cumulonimbus

4.2 Pembahasan

Awan adalah kumpulan titik-titik air atau es yang melayang-layang di astmosfer sebagai hasil proses kondensasi yang terdapat pada ketinggian tertentu yang di sebabkan karena naiknya udara secara vertikal karena proses pendinginan udara secara adiabatik di atmosfer.dalam proses pembentukan awan tidak terlepas dari proses kondensaso yaitu perubahan uap air menjadi butir-butir air atau es,dan kondensasi ini terjadi karena pendingina udara.proses pembentukan beberapa jenis awan dapat dibedakan dalam hal:1)awan yang terbentuk karena gerakan udara secara vertikal,2) awan terbentuk karena peluncuran udara melalui penghalang seperti pegunungan,lapisan udara panas atau dingin.
            Sama halnya dengan pengamatan angin, ketika melakukan pengamatan awan yang kami lakukan sekitar pada  pukul 17:13 WIB diketahui bahwa penutupan langit berada pada deskripsi yaitu tertutup. Dan pada saat tanpa awan kemungkinan akan mangalami hujan ringan (seperti kabut) dan setiap perbedaan waktu pengamatan sangat menentukan perbedaan deskripsi awan karena menyebabakan berbedanya setiap simbol begitu juga pada kodifiksasi. Keawanan pada tiap waktu kemungkinan disebabkan oleh perbedaan suhu, kecepatan angin, tempat dan waktu.



BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

·         Pada pukul 09.20 diketahui bahwa penutupan langit berada pada deskripsi yaitu tanpa awan/cloudles.
·         Dan pada saat tanpa awan kemungkinan akan adanya hujan ringan(seperti kabut).
  • Penyebaran awan biasanya identik dengan penyebaran hujan yaitu kawasan yang tinggi terjadi di ekuator karena merupakan wilayah konvergensi udara.
  • Keawanan biasanya dinyatakan dalam luas penyebaran awan yang menutupi bidang langit.

5.2 Saran

Pada kegiatan praktikum ini, sebaiknya alat dan bahan yang akan digunakan di persiapkan terlebih dahulu, agar praktikan dapat berjalan dengan baik. Dan untuk para praktikan agar mempersiapkan diri materi-materi yang akan dipraktekkan, agar dalam kegiatan praktikum tidak terhambat.













DAFTAR PUSTAKA


Nur muin, S, 2008. Penuntun Praktikum Agroklimatologi, Universitas Bengkulu.
Handoko,1993,Klimatologi Dasar,Institut Pertanian Bogor,Bogor.
Saleh,B dan Nur,M.S,2000,Bahan Ajar Perkuliahan Dasar-Dasar Klimatologi,, Universitas Bengkulu,Bengkulu.
Daldjuni.1993.Pokok – pokok klimatologi.penerbit Alumni.Bandung.
Hasan .U.M.1970. Dasar–dasar Meterologi Pertanian.Pt.soeroengan.Jakarta