Dekat kamu memang indah, aku merasa memiliki semua warna
Tak terlihat lagi mendung di langit
Tapi, semenjak kamu pergi
Dan ku lihat kamu berjalan jauh..
aku merasa bagaikan awan mendung tepat di atas kepalaku
Warna ku luntur akan hujan
Begitu banyak yang ingin aku sampaikan
Tapi, saat di dekat kamu, semua hilang
widya widayanti
Selasa, 27 Mei 2014
Selasa, 04 Februari 2014
Ayam suwir sambal jeruk
Bahan :
250 gr Ayam, potong kecil
perasan air jeruk
penyedap rasa
minyak secukupnya untuk menggoreng
3 butir cabe merah, iris
1/2 buah tomat, cincang kasar
1 sdm gula merah
garam secukupnya
3 siung bawang merah, iri halus
1/2 buah jeruk, potong
ayam

perasan air jeruk

penyedap rasa, kita gunakan Royco rasa ayam

cabe merah

tomat

gula merah

bawang merah

buah jeruk

cara :
ayam yang sudah dipotong kecil-kecil, campurkan dengan air jeruk dan penyedap rasa

panaskan minyak

goreng ayam sampai menguning

angkat dan sisihkan

kemudian untuk sambal siapkan
cabe yang sudah dipotong kasar

masukkan kedalam cobek

masukkan gula merah

penyedap rasa

garam secukupnya

haluskan

sudah halus

kemudian tomat yang suddah dipotong tadi
di tumis


sampai layu

masukkan bawang yang sudah diiris tipis
masukkan

campurkan dengan sambal yang sudah dihaluskan tadi

tambahkan perasan jeruk
masukkan ayam yang sudah digoreng tadi
masukkan potongan jeruk, aduk
ayam suwir sambal jeruk sudah siap untuk dihidangkan
gampangkan, selamat mencoba
tunggu resepku selanjutnya yaa...
250 gr Ayam, potong kecil
perasan air jeruk
penyedap rasa
minyak secukupnya untuk menggoreng
3 butir cabe merah, iris
1/2 buah tomat, cincang kasar
1 sdm gula merah
garam secukupnya
3 siung bawang merah, iri halus
1/2 buah jeruk, potong
ayam
perasan air jeruk
penyedap rasa, kita gunakan Royco rasa ayam
cabe merah
tomat
gula merah
bawang merah
buah jeruk
cara :
ayam yang sudah dipotong kecil-kecil, campurkan dengan air jeruk dan penyedap rasa
panaskan minyak
goreng ayam sampai menguning
angkat dan sisihkan
kemudian untuk sambal siapkan
cabe yang sudah dipotong kasar
masukkan kedalam cobek
masukkan gula merah
penyedap rasa
garam secukupnya
haluskan
sudah halus
kemudian tomat yang suddah dipotong tadi
di tumis
sampai layu
masukkan bawang yang sudah diiris tipis
masukkan
campurkan dengan sambal yang sudah dihaluskan tadi
tambahkan perasan jeruk
masukkan ayam yang sudah digoreng tadi
masukkan potongan jeruk, aduk
ayam suwir sambal jeruk sudah siap untuk dihidangkan
gampangkan, selamat mencoba
tunggu resepku selanjutnya yaa...
Selasa, 17 Desember 2013
laporan praktikum klimatologi acara 7
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Hujan adalah sebuah presipitasi berwujud cairan, berbeda dengan
presipitasi non-cair seperti salju, batu es dan slit. Hujan memerlukan keberadaan lapisan atmosfer
tebal agar dapat menemui suhu di atas titik leleh es di dekat dan di atas
permukaan Bumi. Di Bumi, hujan adalah proses kondensasi uap air di atmosfer menjadi butir air yang cukup berat untuk jatuh dan biasanya tiba di daratan. Dua proses
yang mungkin terjadi bersamaan dapat mendorong udara semakin jenuh menjelang
hujan, yaitu pendinginan udara atau penambahan uap air ke udara. Virga adalah
presipitasi yang jatuh ke Bumi namun menguap sebelum mencapai daratan; inilah
satu cara penjenuhan udara. Presipitasi terbentuk melalui tabrakan antara butir
air atau kristal es dengan awan. Butir hujan memilik ukuran yang
beragam mulai dari pepat, mirip panekuk (butir besar), hingga bola kecil (butir
kecil).
Jumlah air hujan diukur
menggunakan pengukur hujan
atau ombrometer.
Ia dinyatakan sebagai kedalaman air yang terkumpul pada permukaan datar, dan
diukur kurang lebih 0.25mm. Satuan curah hujan menurut SI
adalah milimeter, yang merupakan penyingkatan dari liter per meter persegi.
Alat Pengukur Curah Hujan merupakan alat yang digunakan untuk
mencatat intensitas curah hujan dalam kurun waktu tertentu. Hasil pencatatan
alat pengukur curah hujan dapat digunakan sebagai pembanding dengan hasil
pencatatan pergerakan tanah pada extensometer yang dapat dinyatakan bahwa
semakin besar intensitas curah hujan, maka tanah cenderung mudah bergerak, Rain
Gauge atau Alat Pengukur Curah Hujan terdiri dalam beberapa type yaitu Manual
dan juga otomatis
1.2
Tujuan
Memberikan pengertian bagaimana cara-cara pengukuran
yang biasa dilakukan di lapangan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Hujan merupakan satu
bentuk presipitasi yang berwujud cairan. Presipitasi sendiri dapat berwujud
padat (misalnya salju dan hujan es) atau aerosol (seperti embun dan kabut).
Hujan terbentuk apabila titik air yang terpisah jatuh ke bumi dari awan. Tidak
semua air hujan sampai ke permukaan bumi karena sebagian menguap ketika jatuh
melalui udara kering. Hujan jenis ini disebut sebagai virga ( Handoko, 2000).
Curah hujan yaitu jumlah
air hujan yang turun pada suatu daerah dalam waktu tertentu. Alat untuk
mengukur banyaknya curah hujan disebut Rain gauge. Curah hujan diukur dalam
harian, bulanan, dan tahunan. Curah hujan yang jatuh di wilayah Indonesia
dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain adalah bentuk medan/topografi,
arah lereng medan, arah angin yang sejajar dengan garis pantai dan jarak
perjalanan angina diatas medan datar. Hujan merupakan peristiwa sampainya air
dalam bentuk cair maupun padat yang dicurahkan dari atmosfer ke permukaan bumi
(Handoko, 2003).
Jumlah curah hujan yang jatuh di permukaan tanah
dinyatakan dalam satuan millimeter. Jumlah curah hujan 1 mm menunjukkan tebal
air hujan yang jatuh di permukaan tanah 1 mm, jika ir tersebut meresap ke dalam
tanah atau menguap ke atmosfer (Sudira Putu, 1999).
Alat-alat ini ditempatkan di suatu tempat tertentu yang
memenuhi setiap persyaratan yang wajib dipenuhi dari alat-alat tersebut yang
selanjutnya dapat kita istilahkan sebagai stasiun agroklimat. Selanjutnya
alat-alat ini akan bekerja mencatat setiap data yang diperlukan seperti sebuah
sistem yang terintegrasi dengan baik dalam suatu periode tertentu (Lakitan Benyamin,2002).
Penakar
hujan OBS adalah manual. Jumlah air hujan yang tertampung diukur dengan gelas
ukur yang telah dikonversi dalam satuan tinggi atau gelas ukur yang kemudian
dibagi sepuluh karena luas penampangnya adalah 100 cm sehingga dihasilkan
satuan mm. Pengamatan dilakukan sekali dalam 24 jam yaitu pada pagi hari. Hujan
yang diukur pada pagi hari adalah hujan kemarin bukan hari ini ( Sofendi,2000).
Selain itu ada jenis penakar curah hujan atau alat
pengukur curah hujan yaitu Penakar
hujan Hellman alat ini merupakan penakar hujan otomatis dengan tipe
siphon. Bila air hujan terukur setinggi 10 mm, siphon bekerja mengeluarkan air
dari tabung penampungan dengan cepat, kemudian siap mengukur lagi dan kemudian
seterusnya. Di dalam penampung terdapat pelampung yang dihubungkan dengan jarum
pena penunjuk yang secara mekanis membuat garis pada kertas pias posisi dari
tinggi air hujan yang tertampung. Bentuk pias ada dua macam, harian dan
mingguan. Pada umumnya lebih baik menggunakan yang harian agar garis yang
dibuat pena tidak terlalu rapat ketika terjadi hujan lebat. Banyak data dapat
dianalisadari pias, tinggi hujan harian, waktu datangnya hujan, derasnya hujan
atau lebatnya hujan per satuan waktu ( Haryono, 2001).
Kedua alat penakar hujan otomatis diletakkan pada tempat terbuka. Jarak
antara penakar hujan 150 meter dari tempat penelitian. Kedua tipping bucket
berada pada ketinggian 15 meter dari permukaan tanah. Tipping bucket
dihubungkan dengan sebuah data logger (Delta-T Devices
Ltd.,Cambridge,UK) dengan interval 5 menit untuk mendapatkan data secara terus
menerus. Sebuah corong dan jerigen berukuran 65 Liter ditempatkan pada daerah
yang terbuka, dengan ketinggian 1 meter diatas permukaan tanah, dan bersudut
tidak lebih dari 45 derajat dari tajuk pada plot penelitian. Untuk setiap
kejadian hujan, pencatatan dilakukan setiap hari dari pukul 08.00 pagi hingga
selesai. Apabila pada pukul tersebut masih terjadi hujan, maka pencatatan
dilakukan setelah hujan benar-benar berhenti (Anonim, 2010).
Pada alat penakar manual, untuk mendapatkan data curah hujan dalam
satuan milimeter, dilakukan perhitungan dengan menggunakan persamaan curah
hujan kotor (Pg). Intersepsi diperkirakan dari hasil pengukuran hujan di tempat
yang terbuka ( Gross Presipitation / Pg ), Air lolos ( Troughfall / Tf ), dan
Aliran Batang ( Steamflow / Sf ). Selisih antara curah hujan di tempat terbuka,
air lolos, dan aliran batang merupakan besaran intersepsi hujan ( Ic ). Pemilihan
vegetasi yang digunakan untuk mengukur aliran batang pada plot penelitian
berdasarkan kelas diameter batang pohon. Pemilihan tersebut berdasarkan
diameter pohon diatas 10 cm (Anonim, 2008).
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu Dan Tempat
Praktikum ini dilakukan di
Laboratorium Agroklimatologi. Pada tanggal 10 Desember 2013 pukul 16.00 WIB.
3.2 Bahan Dan Alat
Ø Ombrometer
Ø Ombrograf
Ø Ember
Ø Gayung
Ø Penakar mL
Ø Air
3.3 Cara Kerja
a)
Ember disiapkan, isi dengan air
dan gayung. Kemudian dibawa ke taman alat penakar hujan.
b)
25 cc air dimasukkan ke dalam
ombrometer. Kemudian kran penakar di buka dan di tampung. Air yang keluar di
ukur dengan pengukur bawaan ombrometer.
c)
50 cc air di tuangkan kembali.
Hal yang sama dengan langkah b dilakukan kembali.
d)
Dilakukan kembali langkah c
untuk air 100 mL.
e)
Alat ombrograf di siapkan dan
pias pada drum alat pencatat di pasang.
f)
Langkah a sampai d dalam
pemberian air dilakukan. Yang terjadi pada pena pencatat di amati.
g)
Jika air yang masuk telah
dicapai 10 mm, maka otomatis air akan tumpah dan jarum pencatat akan turun
tiba-tiba. Air yang terbuang di tampung. Yang terukur di catat.
h)
Tinggi air yang terekam pada
pias juga di lihat dan di catat.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Menghitung besar
curah hujan
h
=
a)
h =
=
b)
h =
c)
h =
4.2
Pembahasan
Kami dari kelompok IV melakukan sampel pengamatan curah
hujan pada pukul 17.00 wib, dengan cara mengisi air ke dalam ombrometer
sebanyak 25 cc dan diperoleh hasilnya sebagai berikut jumlah curah hujan yaitu
2,5 mm. Dan pada percobaan kedua di tuangkan kembali sebanyak 50 cc dan di
peroleh hasilnya yaitu 5 mm. selanjutnya pada percobaan ketiga dengan air
sebanyak 100 mL dan hasilnya 10 mm.
Semakin banyak air yang di tuangkan maka semakin besar
volume curah hujan yang di dapat. Hujan dapat ditimbulkan karena adanya
penguapan dari air laur sehingga menimbulkan awan dan terjadi pendinginan,
dengan adanya pendinginan tersebut dapat menimbulkan hujan.
Dalam melakukan pengamatan diperlukan ketelitiaan dalam
melihat volume air hujan yang terdapat dalam gelas ukur dan dat yang diperoleh
harus benar- benar akurat sehingga tidak terjadi kesalahan dalam prosedur suatu
prcobaan.
Data-data yang lengkap dan akurat tersebut hanya bisa
didapatkan dengan cara melakukan pengamatan langsung. Tentu saja dibantu dengan
beberapa alat meteorologi yang mempunyai fungsi dan tugas tertentu. Dalam
pelaksanaan pengambilan data dengan menggunakan alat khusus tentunya dibutuhkan
suatu keahlian menggunakan alat agar data yang diambil lebih akurat dan valid.
Alat-alat ini
ditempatkan di suatu tempat tertentu yang memenuhi setiap persyaratan yang
wajib dipenuhi dari alat-alat tersebut yang selanjutnya dapat kita istilahkan
sebagai stasiun agroklimat. Selanjutnya alat-alat ini akan bekerja mencatat
setiap data yang diperlukan seperti sebuah sistem yang terintegrasi dengan baik
dalam suatu periode tertentu.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
·
Alat yang digunakan
untuk mengukur curah hujan adalah ombrometer.
·
Semakin
banyak air yang di tuangkan maka semakin besar volume curah hujan yang di
dapat.
·
Jumlah curah hujan yang
jatuh di permukaan tanah dinyatakan dalam satuan millimeter.
·
Curah hujan tertinggi
yang didapat dalam pengamatan yaitu sebesar 10 mm.
5.2 Saran
Saran dari praktikum yang telah dilaksanakan hendaknya
data yang di ambil dalam pengukuran haruslah secara sempurna. Selain itu
sebelum melakukan praktikum para praktikan sebaiknya sudah menguasai
bahan-bahan materi yang akan dipraktikumkan sehingga memudahkan untuk
pemahamannya. Bimbingan dari asisten juga sangat
diperlukan.
DAFTAR PUSTAKA
Handoko. 2000.Klimatologi Dasar. Jakarta : Balai
Pustaka
Haryono. 2001.Kamus Geografi. Jakarta : Ghalia
Indonesia
Lakitan
Benyamin.2002. Penginderaan Jauh Geografi.
Bandung : Pakar Raya
Nur muin, S, 2008. Penuntun Praktikum
Agroklimatologi, Universitas Bengkulu.
Sarwono.1993. Cuaca dan Iklim. Jakarta : Gramedia
Sudira Putu.1999. Pengantar Oseangrfi. Jakarta : Tira
Pustaka
Sofendi .2000. Ilmu Geografi. Jakarta : Akademika
Pressindo
LAPORAN
PRAKTIKUM KLIMATOLOGI
Hujan
1: Pengukuran
Nama : Widya Widayanti
NPM : E1B012083
Hari/waktu : Selasa/16:00 WIB
Asisten : 1. Agustina Maryani
2. Pebrin Oditiyaningsih
PROGRAM STUDI BUDIDAYA HUTAN
JURUSAN KEHUTANAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2013
Sabtu, 07 Desember 2013
laporan praktikum klimatologi awan
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Pendahuluan
Awan adalah kumpulan titik-titik air dan atau es yang
melayang-layang di atmosfer sebagai hasil proses kondensasi yang terdapat pada
ketinggian tertentu yang disebabkan karena naiknya udara secara vertikal karena
proses pendingingan udara secara adiabatik di atmosfer. Awan bersifat
mengabsorsi dan merefleksi radiasi surya dan radiasi dari bumikarena dapat
memanaskan atau mendinginkan suhu udara. Bentuk awan dengan kharakteristiknya
juga mencerminkan potensi hujan disuatu daerah di permukaan bumi.
Awan
ialah gumpalan uap air yang terapung di atmosfera. Ia kelihatan seperti asap berwarna putih atau kelabu di
langit. Awan
adalah kumpulan titik air atau kristal es diudara yang terjadi karena
kondensasi uap air di udara yang melebih titik jenuh. Terbentuknya awan
dikarenakan udara yang banyak mengandung uap air mengalami proses pendinginan
sehingga mencapai titik embun.
Proses pendinginan terjadi karena udara terdorong ke atas
sampai atmosfir, dimana suhunya lebih rendah dibandingkan permukaan. Seiring
dengan kenaikan udara panas di ketinggian, tekanan udarapun berkurang. Kondisi
ini menyebabkan udara yang mengandung uap air menyebar dan mengalami
pendinginan. Dan pada saat mencapai titik embun, udara menyatu dengan uap air.
Seluruh uap air yang terkondensasi dalam udara tersebut membeku dan membentuk
embun sehingga terlihat sebagai butiran-butiran awan.
Apabila awan telah terbentuk, titik-titik
air dalam awan akan menjadi semakin besar dan awan itu akan menjadi semakin
berat, dan perlahan-lahan daya tarikan bumi menariknya ke bawah. Hinggalah
sampai satu peringkat titik-titik itu akan terus jatuh ke bawah dan turunlah hujan.
1.2
Tujuan
- Untuk mengetahui bentuk-bentuk awan.
- Untuk memberikan pengertian tentang kemungkinan terjadinya hujan dengan melihat kondisi cuaca beberapa waktu sebelumnya.
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
Awan adalah kumpulan titik-titik air atau es yang
melayang-layang di astmosfer sebagai hasil proses kondensasi yang terdapat pada
ketinggian tertentu yang di sebabkan
karena naiknya udara secara vertikal karena proses pendinginan udara secara
adiabatik di atmosfer.dalam proses pembentukan awan tidak terlepas dari proses
kondensaso yaitu perubahan uap air menjadi butir-butir air atau es,dan
kondensasi ini terjadi karena pendingina udara.proses pembentukan beberapa
jenis awan dapat dibedakan dalam hal:1)awan yang terbentuk karena gerakan udara
secara vertikal,2) awan terbentuk karena peluncuran udara melalui penghalang
seperti pegunungan,lapisan udara panas atau dingin.
Klasifikasi awan
Menurut
konvensasi internasional tentang awan dibedakan atas 4 golongan dan 10 tipe:
I.
Awan
tinggi (> 6.000 m)
1. Cirrocumus (CC) : seperti kumpulan bulu domba>
2.
Cirrostratus
(CS) : seperti puti halus menutupi seluruh angkasa,sering menimbulkan
lingakaran pada matahari dan bulan.
3. Cirrus
(Cr) : halus sperti bulu berserat.tersusun seperti pita.
II.
Awan
sedang (2.000-6.000)
1. Altocumulus
(Ac): sekumpulan awan berbentuk bulat,berlapis-lapis,bergelombang,berwaran
putih,pucat.
2. Altostratus
(As) : seperti selendang yang tebal
,berserat,keabuhan
III. Awan rendah (<2.000
m)
1. Stratocumulus
(Sc) : seperti gelombang,lamgit kelihatan antra gelombang gelombang ini.
2. Nimbostratus
(Ns) : suatu lapisan awan yang tebal dengan bentuk tidak teratur disebut juga
awan gangguan dan sering menimbulkan hujan lebat.
3. Stratus
(St): awan yang melebar seperti kabut ,sering kali terbentuk dari kabut yang
naik dan menimbulkan hujan rnigan.
IV. Awan dengan susunan
vertical
1.
Cumulus (Cn) :
berbentuk seperti kubah dengan kelompok terpencar-pencar,bagian yang berwarna
putih mengkilat,sedangkan bagian yang membelakangi kelabu.
2.
Cumulonimbus (Cb) :
Awan volumenya sangat besar berbentuk seperti menara,kadang-kadang puncaknya
melebar.Awan ini sering menghasilakn hujan lebat disertai guntur dan
kilat,warnanya putih kearah sinar datang dan kelabu dibagian yang membelakangi
sinar matahari.
Distribusi
awan
Perlu diketahui bahwa Penyebaran awan biasanya
identik dengan penyebaran hujan yaitu kawasan yang tinggi terjadi di ekuator
karena merupakan wilayah konvergensi udara dan kuatnya radiasi surya dan
terendah di wilayh subtropika sekitar 20o -30o lintang
bumi karena merupakan wilayah disvergensi.keawan maksimum biasanya siang hingga
sore hari minimum malam hari ketika udara stabil.keawanan ini terjadi pada pagi
hari ketika kabut naik yang banyak terjadi di daerah yang lembab dan
danau.keawanan terbesar terdapat
diwilayah sekitar lintang 60o
lintang bumi (lintang pertengahan) karena wilayah ini merupakn pertemuan massa
udara yang hangat dan lembab dari lintang rendah dengan massa udara dingin dari
wilayah kutub.
Keawanan
biasanya dinyatakan dalam luas penyebaran awan yang menutupi bidang langit yang
dinyatakan dalam satuan luas keawanan 8/8,10/10,atau 100% kawanan 0 % berarti
tanpa awan,keawanan 100% berarti seluruh bidang langit tertutup aswan.ukuran
kuantitatif ini berdasarkan pengamatan kualitatif,cara ini diakui kurang akurat
karena ada perbedaan persepsi diantara pengamat.
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu Dan Tempat
Praktikum ini dilakukan di
Laboratorium Agroklimatologi. Pada tanggal 3 Desember 2013 pukul 16.00 WIB.
3.2
Bahan Dan Alat
Ø Anemometer
Ø Windvan
Ø Termometer dan hygrometer
Ø Barometer
3.3
Cara Kerja
a)
Amati keadaan awan.
b)
Amati jarak pandang, suhu
udara, kelembaban udara, tekanan udara dan arah serta kecepatan angin.
c)
Pengamatan dilakukan oleh
praktikan secara berkelompok.
d)
Catat apabila terjadi hujan.
Perkirakan berapa luas dan lamanya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Jam
(WIB)
|
AWAN
|
|||
Simbol
|
KodiFikasi
|
Deskripsi
Awan
|
Nama
Awan
|
|
17:13
|
8/8
|
Tertutup
|
Cumulonimbus
|
|
4.2
Pembahasan
Awan adalah kumpulan titik-titik air atau es yang melayang-layang di
astmosfer sebagai hasil proses kondensasi yang terdapat pada ketinggian
tertentu yang di sebabkan karena
naiknya udara secara vertikal karena proses pendinginan udara secara adiabatik
di atmosfer.dalam proses pembentukan awan tidak terlepas dari proses kondensaso
yaitu perubahan uap air menjadi butir-butir air atau es,dan kondensasi ini
terjadi karena pendingina udara.proses pembentukan beberapa jenis awan dapat
dibedakan dalam hal:1)awan yang terbentuk karena gerakan udara secara
vertikal,2) awan terbentuk karena peluncuran udara melalui penghalang seperti
pegunungan,lapisan udara panas atau dingin.
Sama halnya dengan pengamatan angin,
ketika melakukan pengamatan awan yang kami lakukan sekitar pada pukul 17:13
WIB diketahui bahwa penutupan
langit berada pada deskripsi yaitu tertutup. Dan pada saat tanpa awan
kemungkinan akan mangalami hujan ringan (seperti kabut) dan setiap perbedaan
waktu pengamatan sangat menentukan perbedaan deskripsi awan karena menyebabakan
berbedanya setiap simbol begitu juga pada kodifiksasi. Keawanan pada tiap waktu
kemungkinan disebabkan oleh perbedaan suhu, kecepatan angin, tempat dan waktu.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
·
Pada
pukul 09.20 diketahui bahwa
penutupan langit berada pada deskripsi yaitu tanpa awan/cloudles.
·
Dan
pada saat tanpa awan kemungkinan akan adanya hujan ringan(seperti kabut).
- Penyebaran awan biasanya identik dengan penyebaran hujan yaitu kawasan yang tinggi terjadi di ekuator karena merupakan wilayah konvergensi udara.
- Keawanan biasanya dinyatakan dalam luas penyebaran awan yang menutupi bidang langit.
5.2
Saran
Pada
kegiatan praktikum ini, sebaiknya alat dan bahan yang akan digunakan di
persiapkan terlebih dahulu, agar praktikan dapat berjalan dengan baik. Dan
untuk para praktikan agar mempersiapkan diri materi-materi yang akan
dipraktekkan, agar dalam kegiatan praktikum tidak terhambat.
DAFTAR PUSTAKA
Nur muin, S,
2008. Penuntun Praktikum Agroklimatologi,
Universitas Bengkulu.
Handoko,1993,Klimatologi Dasar,Institut Pertanian Bogor,Bogor.
Saleh,B dan Nur,M.S,2000,Bahan
Ajar Perkuliahan Dasar-Dasar Klimatologi,, Universitas Bengkulu,Bengkulu.
Daldjuni.1993.Pokok – pokok klimatologi.penerbit
Alumni.Bandung.
Hasan .U.M.1970. Dasar–dasar Meterologi Pertanian.Pt.soeroengan.Jakarta
Langganan:
Postingan (Atom)